Mama Aku Pergi
(Untuk mengenang Alm. Safrin)
Masih melekat jejak torehannya
Senyuman pemuda gagah berani
lugu, jujur, rajin dan rendah hati menambah luka di sini
Aku, kita dan mereka tak bisa lagi rajut tentang kesedihan
jika hari ini hujan air mata
ratapan kehilangan selamanya
Mama aku cinta padamu
Mama aku pergi bukan salahmu
Aku punya cita_cita lain
Cita_citaku bukan kembali ke rahimmu, atau bukan seperti kuberi upeti mereka itu
Sudahlah...
Usia mudaku senja
jangan seperti diriku bisu lantaran frustasi lenyap dihari pagiku
Lihat pun bertekuklah mama...
Lilin itu tak habis kau bakar tetap teranglah belenggu kegelapan dikepalaku
Kini, bibir pucat muram, remuk jantungku meniadakan lagi rindu para sahabat dikelas itu
Mama, mengapa aku seperti ini?
Berilah sabar, melihat tangis juga tawamu
Letik jarimu takku dekap lagi
Hangat belaianmu takku rasakan lagi
Riuh, terisak_isak pun bibir jadi kelu membeku
Tak ada pesan bersama hujan siang ini
Mama...
Merebahlah sejenak merenung
Bahwa roda itu titipan dariNya
Yang nanti dititipkan atau dilenyapkan
Puing, 18 Maret 2020
Oleh: Deo Hironimus


Komentar
Posting Komentar