Puisi : Janji Mawar Pucat ll Sebuah Refleksi Teropong Kecil Kehidupan di Ibu Kota Labuan Bajo

 



                  Janji Mawar Pucat



Part 1 //

Gedung- gedung tunduk sunyi
Hotel_ hotel berbintang menjulang tinggi
Kaki bukit wisata berhias mawar luar negeri
Lereng bukit bertender miliader

Ratusan kaca mata meneropong strategi
Antrian panjang konglomerat berinvestasi 
Barisan supermarket tersusun rapi
Berlomba_lomba daya tarik tersendiri
Sementara pedagang kaki lima helaan nafas sepi

Lahan jurang gersang gagah ramai
Berjual cepat dengan harga murah
Bar_bar elit diujung bukit sampai lembah berdandan warna warni
Pokoknya ramai kota itu
Mari kita pandangi saja bola neon
Menakjubkan..

Senja dipantai pede
Aroma bau sengketa jadi misteri
Politikus berkompetisi cari ketenaran nama
Politikus hilang membawa janji palsu
Perdebatan riuh tetesan embun jadi kenangan

Indah senja dibukit padar
Pulau-pulau perlahan dijual
Entahlah, sudah jadi realita atau bayangan semu

Mawar pucat
Mawar luar negeri berdandan cantik
Antre di depan pintu pajero
Menunggu jadwal main
 
Sekarang malam minggu istana
Berdandan ratu wangi ayu
Konglomerat merayu mawar pucat
Lepas penat bermandi wiski
Sampai pagi hilang harga diri

Part 2 //

Parade kemiskinan 
Kedai kopi luar negeri jadi istimewa 
Kedai hadir berbagai merek
Kopi asli manggarai jadi menangis ilusi

Pedagang jelata mengais rezeki keliling halte
Penjual bensin kemasan pinggiran jalan
Karyawan terisak berupah rendah

Penjual sopi jerigen plastik dirampas
Katanya belum ada izinan
Lalu, ditahan paksa tak bertanggung jawab

Ribuan taksi mini jadi tren
Ojek online jadi tren zaman
Ojek diparkiran menunggu kosong
Para calo tiket sudah jadi tradisi

Musim kemarau panjang
Ibu kota krisis air bersih
Penjual galon istimewa lalu lalang
Penghuni kontrakkan nikmat air kapur

Malam minggu semakin larut
Konglomerat berselimut kabut mawar pucat
Lupa pulang ke rumah
Lupa menasehati buah hatinya

Part 3 //

Pengganguran bertambah banyak
Lapangan kerja sedikit
Terpaksa diam atau kerja di rumah tangga
Entahlah...
Sebuah pilihan terakhir

Pemilik toko asing bengis
Matanya melotot tajam
Para karyawan tertindas budak
Memaki- maki keras dimuka umum
Pecat tak beralasan
Yah, itulah perbedaan hidup

Pekik merdeka telah sirna
Indonesia belum merdeka seutuhnya.



Labuan Bajo, 30 Agustus 2020.



Oleh: Hironimus Deo

Penggerak Literasi SMA Negeri 2 Macang  Pacar, Kec. Pacar Kab. Kab.Manggarai Barat Prov. Nusa Tenggara Timur. Indonesia

Komentar

Postingan Populer