RANGKUMAN MATERI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS XII PERSIAPAN UAS,UN/UNBK 2021

 

 

 

 

 


 

 

RANGKUMAN MATERI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS XII PERSIAPAN UAS,UN/UNBK  2021 
 
 

( Oleh : Hironimus Deo, S. Pd )

 


SELAMAT BELAJAR SEMOGA SUKSES.

 

 

1.   Paragraf

• Unsur-Unsur Paragraf

Sebuah paragraf terdiri atas unsur-unsur yang membangunnya. Berikut unsur-unsur yang membangunnya. Berikut unsur-unsur dalam sebuah paragraf yang dimaksud.

1. Ide Pokok

Ide pokok adalah hal yang dibahas dalam paragraf atau pikiran yang menjiwai seluruh paragraf. Setiap paragraf memiliki satu ide pokok. Ide pokok itu pada umumnya tersurat dalam paragraf, tetapi mungkin juga tersirat. Ide pokok yang tersurat biasanya ada pada bagian awal paragraf, bagian akhir paragraf, atau terdapat pada bagian awal lalu dipertegas lagi pada bagian akhir paragraf. Untuk lebih jelasnya, bacalah contoh-contoh pragraf di bawah ini!

 

a. Untuk menjaga agar subsidi listrik tetap Rp 60 Triliun sesuai amanat APBN, pemerintah berencana memperluas penerapan Tarif Dasar Listrik (TDL) nonsubsidi kepada pelanggan bisnis dan dan rumah tangga sampai golongan 1.300 VA. Peluasan TDL nonsubsidi itu akan diberlakukan mulai September tahun ini. TDL nonsubsidi saat ini berlaku untuk konsumen golongan 6.600 VA ke atas. TDL nonsubsidi dikenakan pada 20 persen pemakaian di atas rata-rata patokan nasional. Konsumen golongan 450 VA sampai 900 VA diupayakan tidak dikenakan TDL. 

 

b. Setiap hari, Aditya bangun pagi pukul setengah lima. Setelah salat subuh, ia lari pagi di sekitar rumahnya selama tiga puluh menit. Setelah berolahraga dan keringatnya kering, ia mandi. Kemudian, ia berangkat ke sekolah setelah sarapan pagi. Pukul tiga siang, ia tiba kembali di rumah. Sisa waktunya sebagian besar dipergunakan untuk belajar. Sebagian selingan, ia menonton televisi sebentar. 

 

Ide pokok pada paragraf  (a) tersurat pada kalimat pertama yang ditunjukkan oleh rencana penerapan tariff dasar listrik. Sedangkan ide pokok paragraf  (b) tidak tersurat, tetapi tersirat di seluruh paragraf, yakni kegiatan aditya sehari-hari. Ide pokok dirumuskan dalam bentuk intisari kalimat utama. Oleh karena itu, wujud ide pokok dalam sebuah paragraf umumnya berbentuk frasa.

 

Cara menemukan ide pokok paragraf dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan “apakah yang diungkapkan dalam paragraf ini?” jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ide pokok pada paragraf  tersebut.

2. Kalimat Utama

  Kalimat utama adalah kalimat tempat dituangkannya ide pokok atau pikiran utama, berdasarkan letaknya, kalimat utama dapat terletak di awal paragraf (deduktif), di akhir paragraf (induktif), atau di awal dan akhir paragraf (deduktif-induktif). Selain itu, ada pula paragraf yang tidak memiliki kalimat utama, tetapi tetap memiliki ide pokok. Paragraf seperti itu ide pokoknya tersirat dalam seluruh paragraf. Untuk memahami hal tersebut, bacalah paragraf-paragraf berikut ini!

 

a. Contoh paragraf yang kalimat utamanya terdapat di awal.

Keadaan bahasa Indonesia di media massa khususnya, dan di masyarakat pada umunya masih belum sebaik yang diharapkan. Media massa mempunyai peranan penting yang sekaligus merupakan kewajiban untuk ikut membina bahasa Indonesia. Disamping itu, bahasa Indonesia akan selalu terbina apabila segenap warga negara dan masyarakt memiliki sikap berbahasa yang baik. Tambahan pula, kesabaran sangat berperan dan diperlukan dalam pembinaan bahasa Indonesia ini. 

 

b. Contoh paragraf yang kalimat utamanya terdapat di akhir.

Seluruh keputusan di Helshinki, Findlandia bukan proyek elite, melainkan merupkan kesempatan mewujudkan kedamaian Aceh. Pihak-pihak yang berkonflik pun tidak lagi mengkhianati seluruh rencana damai yang sudah disepakati. Proses pemilihan rekonstruksi Aceh pascatsunami pun dapat berlangsung cepat. Perekonomian penduduk telah muai pulih. Inilah berita gembira perindu damai di negara Aceh yang sangat dinantikan.

 

c. Contoh paragraf yang kalimat utamanya terdapat di awal dan akhir.

Konflik akibat perbedaan selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang belum tentu sama dengan yang dibutuhkan orang lain. Di samping itu, suatu kebutuhan yang dapat dicapai oleh seseorang belum tentu dapat dicapai orang lain. Kenyataan seperti ini dari waktu ke waktu akan selalu ada. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya konflik akibat perbedaan selalu ada. 

 Menemukan kalimat utama dalam paragraf sebenarnya tidak sulit. Kalimat utama yang terdapat pada bagian awal paragraf pada umumnya mengandung pernyataan yang bersifat umum, pernyataan yang masih memerlukan pengembangan, rincian, dan penjelasan lebih lanjut. Kalimat utama yang terletak di bagian akhir paragraf pada umumnya merupakan simpulan dari apa yang telah disampaikan pada kalimat-kaimat sebelumnya. Kalimat utama yang terletak di bagian awal dan akhir paragraf, sebenarnya adalah pengulangan dari kalimat utama di awal paragraf hanya kadangkala bentuk kalimatnya berbeda, tetapi maksudnya sama.

 Wujud kalimat utama dapat berbentuk kalimat tinggal dan dapat pula berbentuk kalimat majemuk.

3. Kalimat Penjelas

Kalimat penjelas adalah kalimat-kalimat yang menjelaskan kalimat utama. Kalimat-kalimat penjelas harus memiliki kesatuan yang padu, yakni semua kalimat tersebut membentuk sebuh paragraf secara bersama-sama menyatakan suatu ide pokok tertentu. Selain itu, kalimat-kalimat penjelas harus koheren, yakni memiliki kekompakkan hubungan dengan kalimat yang lain sehingga membina keutuhan paragraf. Koherensi dapat dibangun dengan kata penghubung atau kata acuan. Kata penghubung atau acuan dapat diletakkan pada kalimat sebelum atau sesudah rangkaian kalimat dalam paragraf.

 

Berikut salah satu contoh paragraf yang padu.

(1) Jalan itu pagi-pagi sudah ramai sekali. (2) Sekalipun masih pukul enam pagi dan masih agak gelap, sudah banyak kendaraan yang lewat membawa hasil pertanian ke pasar seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya. (3) Mobil angkutan umum dan bus yang mengangkut anak sekolah  tampak memadati jalan itu. (4) Tambah ramai lagi, oleh pengendara sepeda, sepeda motor, dan aneka jenis mobil pribadi. (5) Agak siang, tampak pula giliran bus pegawai, baik negeri maupun swasta berangkat ke tempat pekerjaan masing-masing. (6) Demikianlah, jalan itu tidak pernah sepi sekalipun masih pagi.

Dikutip dari “Paragraf”, M. Ramlan.

 

Kelompok kata yang bercetak miring adalah acuan yang menjalin kepaduan antar kalimat dalam paragraf tersebut, sekaligus mendukung ide pokok atau kalimat utama. Paragraf tersebut terdiri atas enam kalimat. Kalimat (1) merupakan kalimat utama yang menyatakan, “Jalan itu pagi-pagi sudah ramai sekali.” Keramaian jalan itu dijelaskan lebih terperinci pada kalimat (2-5) dan selanjutnya pada kalimat (6) dikemukakan suatu simpulan yang ssesungguhnya merupakan pengulangan kalimat (1), yaitu “Jalan itu tidak pernah sepi sekalipun masih pagi.”

Untuk contoh paragraf yang tidak padu dapat dilihat pada paragraf berikut ini. (1) Kota Yogyakarta dikenal juga sebagai kota pelajar. (2) Tanah di sekitarnya sangat subur. (3) Banyak pendatang baru yang datang untuk mencari pekerjaan. (4) Pada malam hari, banyak orang berjalan-jalan di sepanjang Jalan Molioboro untuk menghirup udara malam.

Dikutip dari “Paragraf”, M. Ramlan.

 

Paragraf tersebut terdiri atas empat kalimat. Pada kalimat (1) yang merupakan kalimat utama dinyatakan bahwa, “Kota Yogyakarta dikenal juga sebagai kota pelajar.” Sebagai kota pelajar, seharusnya dijelaskan bahwa di kota itu banyak terdapat lembaga pendidikan sehingga banyak pemuda dari luar Yogyakarta datang untuk belajar atau lainnya yang berhubungan dengan sebutan sebagai kota pelajar itu. Akan tetapi, penjelasan yang diberikan pada paragraf tersebut tidak demikian. Kalimat-kalimat penjelasnya tidak mendukung kalimat utama sehingga paragraf tersebut tidak padu.

Jadi, ide pokok harus ditentukan sebelum menulis sebuah paragraf. Ide pokok tersebut dituangkan ke dalam kalimat utama. Pada saat mengembangkan paragraf, semua kalimat harus mengacu pada kalimat utama tersebut. rambu-rambu pengembangan paragraf dilandasi ide pokok atau kalimat utama yang sudah ditentukan. Hal ini berlaku untuk semua jenis paragraf, yaitu paragraf eksposisi, deskripsi, persuasi, argumentasi, dan narasi.

• Isi Paragraf

Isi paragraf adalah pokok-pokok atau hal penting dalam paragraf. Paragraf yang lengkap isinya mencakup rumus 5W+1H (what ‘apa yang terjadi’. Where ‘di mana hal itu terjadi’. When ‘kapan peristiwa itu terjadi’. Who ‘siapa yang terlibat dalam kejadian itu’. Why ‘mengapa hal itu terjadi’. Dan how ‘bagaimana peristiwa itu terjadi’).

Isi paragraf dapat memuat kalimat yang berupa fakta dan kalimat berupa opini. Fakta adalah hal (kejadian, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi, sedangkan opini adalah pendapat, pikiran, dan pendirian seseorang.

Dalam teks sering kita temukan beberapa paragraf yang terdapat istilah-istilah khusus. Istilah-istilah tersebut untuk mengungkapkan maksud tertentu sesuai dengan masalah yang diungkapkan penuis. Istilah tersebut dapat berupa kata atau gabungan kata yang secara cermat mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tertentu karena setiap bidang ilmu mempunyai istilah. Misalnya, istilah pertanian, teknologi, ekonomi, olahraga, atau lingkungan.

Contoh penggunaan istilah dalam paragraf dapat dilihat berikut ini.

Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3.181.742.918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharus nya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, yaitu pertama meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005, dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen. Alasan kedua adalah kemampuan Bank Indonesia membayar cicilan utang pada IMF dan masalah cadangan devisa serta kemampuan Indonesia untuk menciptakan ketahanan.

 Apabila ingin memahami paragraf tersebut dengan baik, kita harus memahami istilah-istilah yang terdapat dalam teks. Seperti istilah suku bunga yang berarti tariff yang dibenarkan oleh pihak bank atas pinjaman uang, dan istilah devisa yang berarti alat pembayaran luar negeri yang dapat ditukar dengan uang luar negeri.

• Pola Pengembangan Paragraf

Pola pengembangan paragraf (penalaran) adalah pemikiran untuk memperoleh kesimpulan atau pendapat yang logis berdasarkan data yang relevan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran data sebagai dasar untuk menarik kesimpulan.

Penalaran dibagi menjadi dua macam berdasarkan prosesnya, yaitu induksi dan deduksi. Penalaran induksi meliputi generalisasi, analogi, dan sebab akibat. Penalaran deduksi meliputi silogisme dan entimem.

1. Penalaran Induksi

a. Generalisasi

penalaran generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan yang bersifat umum mencangkup semua fenomena yang terjadi.


Contoh:

Dude Harlino adalah seorang aktor, dan dia berwajah tampan.

Tengku Wisnu adalah seorang aktor, dan dia berwajah tampan.

Generalisasi: Semua aktor berwajah tampan. 

Pernyataan “semua aktor berwajah tampan” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.

 

b. Analogi

Penalaran analogi adalah penalaran yang membandingkan dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa sesuatu yang berlaku untuk suatu hal akan berlaku pula untuk hal yang lain.


Contoh:

Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan seseorang yang mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan sepeti jalan licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula dengan menuntut ilmu, seeorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung untuk mencapai puncaknya.


c. Sebab-Akibat (hubungan kausal)
Penalaran yang bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju kepada suatu kesimpulan sebagai akibat yang terdekat.

Ada tiga jenis hubungan sebab-akibat, yaitu:

(1) Hubungan sebab-akibat: dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan sampai pada kesimpulan yang menjadi akibat dari sebab.


Contoh:

Pohon-pohon dihutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Kemarau ini cukup panjang. Perairan di desa itu menjadi berkurang dan tidak lancar. Ditambah lagi dengan kelangkaan pupuk dan harganya yang semakin mahal. Sementara itu, pengetahuan para petani dalam menggarap lahan tanahnya masih sangat tradisional, yaitu berdasarkan kebiasaan atau tradisional.oleh karena itu,tidak mengherankan jika panen di desa itu selalu tidak meningkat, bahkan sering gagal.


(2) Hubungan akibat ke sebab: dimulai dengan fakta yang menjadi akibat. Kemudian fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.


Contoh: 

Hasil panen para petani di Desa Cikaret hampir setiap musim tidak memuaskan. Banyak tanaman yang mati sebelum berbuah karena diserang hama. Banyak pula tanaman yang tidak berhasil tumbuh dengan baik. Bahkan itu saja, pengairan pun tidak berjalan dengan lancer dan penataan letak tanaman tidak sesuai dengan aturannya. Semua itu merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan para petani dalam pengolahan pertanian.


(3) Hubungan akibat ke akibat: hubungan kasual yang terjadi dari hubungan suatu penyebab yang menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang akan menimbulkan akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul beberapa akibat.


Contoh:

Baru-baru ini, petani Cimanuk gagal panen karena tanaman padi mereka dierang hama wereng. Peristiwa ini menimbulkan kerugian ratusan juta rupiah. Selain itu, distribusi beras ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung menjadi terganggu. Pasokan beras di pasar tradisional pun semakin lama semakin menipis sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan beras. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan impor beras dari negara tetangga dengan harapan kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi selama menunggu hasil panen berikutnya.


2. Penalaran Deduksi
Deduksi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari suatu hal yang sudah ada menuju kepada suatu hal baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Proses penalaran deduksi pun memiliki variasi.

a. Sigolisme adalah suatu proses penalaran yang berusaha menghubungkan dua pernyataan yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan yang akan menjadi pernyataan yang ketiga. Dua pernyataan nya disebut premis mayor dan premis minor adalah pernyataan yang bersifat khusus. Dengan dua dasar premis itu akan dihasilkan kesimpulan yang logis dan sah. Contohnya dapat dilihat berikut ini.


Premis mayor (umum): Semua siswa SMA harus memakai baju seragam putih abu-abu. 

Premis minor (khusus): Rizki adalah siswa SMA

Konklusi (Kesimpulan): Rizki harus memakai seragam putih abu-abu.

Dari contoh di atas dapat ditarik sebuah rumus dalam silogisme:

PM : Semua A = B

PK : C= A

K : C = B

b. Entimem adalah silogisme yang dipendekkan. Rumus dari entimem adalah K(C + B) karena PK (C = A). maka entimen dari contoh di atas adalah.

Rizki harus memakai seragam abu-abu karena ia adalah siswa SMA.    

          C                             B                               C             A

• Jenis – Jenis Paragraf

Ada lima jenis paragraf, antara lain:

1. Paragraf deskripsi 

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang berusaha untuk mengajak para pembacanya untuk ikut merasakan apa yang diceritakan oleh penulis.

 

Contoh:

Langit masih hitam pekat. Sang surya masih enggan menampakkan kegagahannya. Ayam pun masih enggan berkokok. Warga kampung itu masih asyik dengan mimpi mereka. Namun, ada satu rumah yang terlihat berbeda. Rumah itu sudah dihiasi dengan tanda-tanda kehidupan. Terdengar suara orang yang sedang menimba air.

 

2. Paragraf eksposisi

Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk menerangkan suatu hal kepada pembacanya.


Contoh:

Jatuhnya pesawat berkapasitas 266 penumpang airbus A300-600 merupakan peristiwa kedua bagi American Airlines beberapa detik lepas landas dari Bandar udara internasional O’Hare Chicago, tiba-tiba mesin kiri lepas dari duduknya. Pilot tidak bisa mengendalikan pesawat akibat keseimbangan pesawat mendadak berubah dengan jatuhnya mesin berbobot sekitar 5 ton. Pesawat mendarat dan menghujam tempat parker kendaraan 31 detik kemudian dan 271 penumpang plus awak tewas seketika.

 

3. Paragraf narasi


Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian. Dalam paragraf ini terdapat alur cerita, tokoh, latar, dan konflik.


Contoh:

Untuk liburan kali ini, aku dan keluargaku berlibur ke kampung ibukuyaitu di Yogyakarta. Pagi hari tanggal 19 Maret, aku sudah bebnah dan menyiapkan semua pembekalan yang kami perlukan. Tak lupa juga aku membantu ibuku menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh adikku. Sepanjang perjalanan, aku dan adikku tak berhenti bercanda. Ibuku pun bercerita tentang masa kecilnya di kampung. Tak terasa perjalanan kurang lebih dua belas jam sudah dilampaui. Kami pun sudah sampai. Sesampainya di sana, kami pun disambut nenek dan kakek. Wuah, suasanannya ramai sekali. Ternyata ada saudara sepupuku juga yang berlibur. Liburan disekolahku kali ini pasti akan sangat menyenangkan. 

 

4. Paragraf argumentasi


Paragraf argumentasi adalah paragraf yang berusaha untuk meyakinkan bahwa hal yang dikemukakan adalah benar. Caranya adalah dengan mengajukan sejumlah fakta.


Contoh:

Pencemaran lingkungan hampir terjadi di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar. Pencemaran itu, antara lain, polusi udara dari kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin banyak, pembuangan limbah industri dari pabrik-pabrik yang tidak sesuai dengan prosedur, dan ulah masyarakat sendiri yang sering membuang sampah sembarangan. Pencemaran tersebut dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Misalnya udara menjadi kotor dan tidak sehat, menyebarnya berbagai virus dan bakteri atau menjangkitnya wabah penyakit, serta bencana banjir karena saluran-saluran air tersumbat oleh sampah.

 

5. Paragraf persuasi

Paragraf persuasi adalah paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai dengan bukti dan fakta.


Contoh:

Untuk menjaga kesehatan tidak cukup dengan hanya minum vitamin. Olahraga pun juga sangat penting. Dengan berolahraga secara rutin. Otomatis aliran darah kita pun akan menjadi lancer. jantung pun juga sehat. Ditambah lagi pikiran kita akan lebih segar setelah berolahraga. Jadi, jika ingin sehat rajinlah berolahraga. 

 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

1. Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

(1) Memberikan “asupan” makanan yang sehat dan seimbang adalah cara yang baik untuk memastikan tumbuh kembang serta menjaga tubuh tetap sehat dan kuat. (2) Pola makan yang dianjurkan adalah yang mengandung tiga kelompok zat nutrisi, yaitu sumber zat tenaga, pembangun, dan pengatur. (3) Makanan yang tergolong dalam sumber zat tenaga adalah nasi, tepung-tepungan, umbi-umbian, gula, dan minyak. (4) Sumber zat pembangun terdapat pada makanan seperti ikan, telur, susu, daging ayam, daging sapi, dan kacang-kacangan. (5) sedang sumber zat pengatur banyak terdapat pada sayur dan buah, terutama yang berwarna hijau dan kuning.


Ide pokok tersebut adalah ….

a. cara yang baik untuk memberikan asupan makanan

b. cara menjaga tubuh agar tetap sehat dan kuat

c. asupan makanan sehat dan seimbang

d. asupan makanan yang sehat untuk tumbuh kembang

e. makanan yang sehat dan seimbang pada sayur dan buah



 

2. Kalimat yang berisi fakta pada paragraf tersebut adalah kalimat nomor …..

a. (1), (2), dan (3)

b. (1), (3), dan (4)

c. (2), (3), dan (4)

d. (2), (4), dan (5)

e. (3), (4), dan (5)

 

3. Cermatilah silogisme berikut!

PU : Siswa yang masuk fakultas kedokteran harus bebas narkoba

PK : Hendra akan masuk fakultas kedokteran 

Simpulan: …….

Simpulan silogisme tersebut adalah ….

a. Hendra harus bebas narkoba karena akan masuk kedokteran

b. Semua siswa harus bebas narkoba karena akan masuk kedokteran

c. Orang yang akan masuk kedokteran bebas narkoba

d. Hendra akan masuk kedokteran jadi harus bebas narkoba

e. Hendra harus bebas narkoba

 

4. Bacalah paragraf analog berikut dengan saksama!

Pada suatu waktu, sebuah batang pohon akan mengeluarkan cabang baru. Cabang-cabang baru itu kemudian mengeluarkan ranting-ranting baru yang lebih kecil, demikian seterusnya. Begitu pula dalam bahasa, suatu bahasa proto menjadi dua bahasa atau lebih. Setiap bahasa baru itu dapat bercabang pula menjadi bahasa-bahasa kecil yang jumlahnya banyak ….

Kalimat simpulan yang tepat untuk melengkapi paragraf analog tersebut adalah ….

a. Jadi, pohon-pohon bisa tumbuh subur dan mengeluarkan cabang-cabang baru bila setiap hari disiram dan diberi pupuk.

b. Jadi, bahasa dapat tumbuh dan berkembang menjadi bahasa yang banyak, seperti halnya pohon yang bercabang dan beranting.

c. Jadi, bahasa harus dipupuk dan disirami, terus dengan cara menggunakannya agar tumbuh dengan subur.

d. Jadi, menggunakan bahasa dengan baik dan benar merupakan cara yang baik dalam melestarikannya

e. Jadi, kita harus selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan rantingnya.

2.   Tajuk Rencana, Karya Tulis Ilmiah, dan Teks Pidato

Tajuk Rencana

1. Pengertian Tajuk Rencana
Tajuk rencana atau editorial adalah opini redaksi aspirasi, pendapat, dan sikap resmi media terhadap persoalan potensial, fenomenal, aktual, dan atau kontroversial yang terdapat dalam masyarakat.
Ada beberapa karakteristik tajuk rencana, yaitu sebagai berikut.
a. Ditulis oleh pihak redaksi
b. Penulis tidak dicantumkan
c. Topik yang dibahas bersifat aktual, kontroversi, atau keduanya.
d. Bertujuan untuk menjelaskan berita atau memprediksi masa yang akan datang.
e. Ditulis secara referensi, padat, bermakna, dan argumentatif.

2. Perbedaan Fakta dan Opini dalam Tajuk Rencana
Fakta dalam tajuk rencana dapat berupa contoh-contoh untuk memperjelas dan menegaskan uraian suatu gambaran yang nyata, konkret, dan dapat dibuktikkan dengan pancaindra. Opini dalam tajuk rencana adalah opini yang berkembang dalam masyarakat yang dapat berupa kutipan pendapat pakar, ucapan tokoh, narasumber, tokoh, narasumber, buku, dan lain-lain yang memperkuat argument, mempertajam analisis, dan membangun kreadibilitas media. Opini redaktur dalam tajuk rencana adalah pendapat yang berupa tanggapan terhadap masalah yang dikemukakan dalam tajuk rencana.

3. Masalah dalam Tajuk Rencana
Untuk menemukan masalah dalam tajuk rencana, kita harus melihat topik yang sedang diungkapkan dan hubungan antara kondisi ideal dengan kondisi sesungguhnya. Lihatlah perbedaan antara kondisi tersebut. jika terjadi kesenjangan, itulah yang menjadi masalah dalam tajuk rencana tersebut.

 

Karya Tulis Ilmiah

1. Judul
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) pada nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan. Kecuali kata depan dan kata penghubung di, ke, dari, dan, yang, untuk, dalam, terhadap, kepada, oleh yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh judul karya tulis adalah sebagai berikut ini, Upaya meningkatkan Apresiasi Siswa terhadap Karya Sastra dalam Pembelajaran Sastra Indonesia di Tingkat Sekolah Menengah Atas.

2. Latar Belakang Masalah
Latar belakang berisi alasan pemilihan judul karya tulis yang menunjukkan fakta, fenomena, gejala, data, atau kasus-kasus yang menimbulkan permasalahan yang penting untuk diangkat. Selain itu, latar belakang mampu mencerminkan hubungan judul dengan inti masalah dan keseluruhan isi makalah. Contoh permulaan latar belakang adalah Banyak siswa SMA yang mengalami kesulitan mengapresiasi karya sastra dalam pembelajaran sastra Indonesia.

3. Perumusan Masalah
Masalah dirumuskan berdasarkan latar belakang yang ditulis. Rumusan masalah berbentuk kalimat tanya. Contoh perumusan masalah dalam suatu karya tulis adalah Bagaimana upaya meningkatkan apresiasi siswa terhadap karya sastra dalam pembelajaran sastra Indonesia di tingkat sekolah menengah atas?

4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berisi tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tersebut berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Contoh kalimat tujuan penelitian adalah Adapun tujuan penelitian ini untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap karya sastra dalam pembelajaran di tingkat SMA.

5. Alternatif Pemecah Masalah
Setelah berhasil merumuskan masalah dengan tepat dan benar, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah membuat sejumlah alternative pemecahan masalah. Alternative yang diusulkan harus dapat menyelesaikan dengan baik masalah yang telah didefinisikan. Contoh kalimat alternatif pemecahan masalah adalah Mengajak siswa untuk menghayati isi cerita (karya sastra) yang akan diapresiasi dengan baik, melakukan evaluasi perilaku tokoh, atau hal-hal atau peristiwa yang diungkapkan dalam cerita.

6. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian berisi manfaat hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Manfaat penelitian dapat berupa manfaat bagi guru, murid, peneliti, atau khalayak umum, baik secara teoritis maupun praktis.

7. Landasan Teori
Menjelaskan konsep-konsep atau pendapat para pakar yang ahli di bidangnya untuk menjawab rumusan masalah secara tuntas. Penulis menjabarkan atau menguraikan beberapa pendapat para ahli dalam teori tersebut, bukan sekedar mengutip pendapat mereka. Kalimat-kalimat yang digunakan adalah kalimat efektif yang minimal mengandung fiktif subjek dan predikat. Contoh landasan teori adalah sebagai berikut ini.
- Apresiasi Sastra pada hakikatnya adalah sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya)
- Menghargai sastra artinya memberikan penilaian pada sebuah karya sastra sehingga seseorang dapat menentukan karya sastra apakah baik atau buruk.

8. Landasan Berpikir

 

Menjelaskan analisis berpikir yang digunakan untuk menganalisis, mengupas, membedah, dan mengurai seluk-beluk maslaah. Landasan berpikir dirumuskan berdasrkan teori-teori yang kita gunakan untuk mendukung penelitian ini.

9. Istilah  
Istilah berarti kata-kata khusus yang digunakan dalam karya-karya tulis bergantung pada topic yang dibicarakan. Penggunaan istilah harus sesuai dengan lingkup permasalahan dalam karya tulis tersebut. Contohnya, pembelajaran sastra dapat berfungsi untuk meningkatkan ketajaman rasa pada  budaya bangsa. Kata ketajaman itu merupakan istilah yang biasa digunakan ketika berbicara mengenai sastra, yaitu untuk mengganti kata kepekaan.

Teks Pidato

Berpidato pada dasarnya merupakan kegitan mengungkapkan pikiran dengan bahasa secara lisan yang ditujukan kepada orang banyak dalam sebuah forum untuk berbagai keperluan atau tujuan. Sebelum berpidato, sebauknya disiapkan teks atau naskah pidato secara lengkap  atau kerangka berupa pokok-pokok penting yang akan disampaikan.

Pada dasarnya, menulis teks pidato sama dengan menulis pada umumnya. Naskah pidato yang akan disampaikan secara lisan harus lebih diperhatikan lagi kemudahan dan kesedarhanaan bahasanya, kejelasan materi yang disampaikan, dan kesantunan dalam penyampaian agar pidato menarik.
Ada beberapa langkah dalam menyusun teks pidato.
a. Menentukan tema atau pokok pembicaraan yang sesuai dengan tujuan pidato.
b. Mendaftar pokok-pokok yang akan disampaikan dalam pidato
c. Menyusun kerangka pidato yang mengandung tiga bagian pokok:

  • Pendahuluan, yaitu bagian yang berisi salam pembuka, ucapan syukur, dan terimakasih kepada pihak-pihak yang terkait.
  • Isi, berupa penyampaian tema, tujuan, dan pokok-pokok pembicaraan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan tema.
  • Penutup, yaitu bagian yang berupa simpulan isi pidato dan seruan untuk membangkitkan motivasi. Kalimat yang digunakan biasanya bersifat persuasif.

 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

1. Bacalah petikan tajuk rencana berikut dengan saksama!
Tindakan konsisten dan berkelanjutan merupakan tantangan kita. Baru saja dipertontonkan lagi kelemahan kita pada bencana gempa di Bengkulu dan Sumatra Barat. Bantuan segera diangkat dengan pesawat terbang ke Bengkulu dan Padang. Segera pula tampak lewat laporan multimedia keluh kesah warga di luar ibu kota provinsi yang belum mendapatkan bantuan. Setelah dua minggu pun keluhan itu masih terdengar dan tampak.
1. Opini penulis pada tajuk rencana tersebut adalah ….
a. Penanganan bencana di negara kita masih lemah
b. Bantuan harus segera dikirimkan kepada korban bencana alam
c. Pemerintah memberikan bantuan kepada korban bencana secara merata
d. Laporan multimedia dapat membantu dalam penanganan bencana
e. Pemerintah telah berusaha maksimal dalam menangani korban bencana

2. Cermatilah judul karya ilmiah berikut!
Judul karangan : mengenai macam, fungsi dan cara pembuatan sabun
Penulisan judul karya ilmiah tersebut yang tepat adalah …..
a. Mengenal Macam, Fungsi dan Cara Pembuatan Sabun
b. Mengenal Macam, Fungsi, dan Cara Pembuatan Sabun
c. Mengenal Macam, Fungsi, dan Cara pembuatan sabun
d. Mengenal Macam, Fungsi dan cara pembuatan sabun
e. Mengenal Macam, Fungsi dan Cara pembuatan Sabun


3. Bacalah naskah pidato berikut dengan saksama!
Saudara-saudara,
Banyak di antara kita menghabiskan waktu untuk menonton tayangan televisi yang semakin menarik dan bervariasi. Menurut penelitian, ada pelajar yang lebih dari lima jam sehari menghabiskan waktu nya untuk menonton televisi. Bila hal itu berlanjut terus, tentulah waktu untuk membaca, mengulangi pelajaran, dan mengerjakan PR tinggal sedikit sekali. Hal ini tentu akan berpengaruh pada prestasi dan cita-cita masa depan bangsa …..


Kalimat ajakan yang tepat untuk melengkapi kalimat pidato tersebut adalah …..
a. Saudara-saudara, hendaknya meninggalkan kebiasaan berlama-lama menonton televisi sejak sekarang
b. Mari kita menggunakan waktu secara efektif dan efisien dalam belajar untuk mencapai prestasi.
c. Jelaslah, tayangan televisi telah mengganggu waktu belajar kita di rumah dan lingkungan sekolah
d. Mari kita kurangi menonton televisi dan waktu yang tersedia kita gunakan untuk mengulangi pelajaran.
e. Oleh karena itu, kita harus berjuang dan bekerja keras untuk meraih cita-cita masa depan kita.
3. Resensi, Esai, Kritik, dan Biografi 

Resensi

Prinsip atau unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah resensi buku sebagai berikut.
a. Judul resensi harus menarik dan menggambarkan isi buku.
b. Identitas Buku, seperti judul, nama pengarang, nama kota, dan penerbit, jumlah halaman, cover serta harga buku.
c. Kepengarangan berupa latar kepengarangan pengarang, buku-buku yang pernah ditulis pengarang, pengahrgaan yang pernah diraih, dan dari mana penghargaan itu berasal.
d. Inti cerita atau synopsis, diungkapkan secara singkat, menarik, dan menggambarkan persoalan yang muncul dalam buku serta pelaku utama dalam cerita.
e. Penilaian tentang unsur intrinsic, baik kelemahan maupun keunggulannya.
f. Bahasa pengarang dalam buku
g. Kesimpulan terhadap buku yang diresensi dan dapat disertai ajakan kepada pembaca untuk membaca buku tersebut.

Esai dan Kritik

Menurut H. B. Jassin, esai adalah uraian singkat yang membicarakan beragam hal dan tidak teratur seperti di petik dari berbagai jalan pikiran. Dalam esai akan terlihat keinginan sikap terhadap soal yang dibicarakan dan terhadap kehidupan seluruhnya. Kritik adalah karangan yang membuat penilaian baik-buruk atas karya yang sedang di bahas. Penyajiannya harus sistematis dan mengacu kepada teori atau aturan-aturan bidang tertentu yang sesuai dengan karakteristiknya.

Biografi Tokoh

Biografi tokoh adalah riwayat hidup seorang tokoh sejak dilahirkan sampai meninggal. Tujuan membaca buku biografi sebagai berikut.
a. Mencari hal-hal yang menarik atau mengagumkan dari perjalanan hidup tokoh
b. Mencari hal yang dapat dicontoh atau diteladani dari sosok tokoh tersebut untuk kehidupan sendiri
c. Mencari keistimewaan dari tokoh tersebut
Unsur-unsur yang terdapat dalam biografi;
a. tempat dan tanggal lahir
b. riwayat pendidikan
c. riwayat pekerjaan
d. perjalanan karir, dan
e. karya-karya yang telah dipublikasikan

 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

1.      Bacalah kalimat resensi berikut dengan saksama!
Banyak buku lain yang memuat tulisan para anggota Forum Lingkar Pena (FLP), baik di pusat maupun di daerah-daerah. Buku ini bahasanya halus dan lancer. Pengarang berdakwah lewat cerita. Kekuatan visinya jelas. Seluruh royalty buku yang diterima para penulis akan didedikasikan kepada Yusakh Ananda, seorang yang sudah renta, tetapi masih setia menulis sambil berjualan di kantin sekolah.
Kalimat resensi yang berupa keunggulan buku berdasarkan penjelasan tersebut adalah ….
a. Para penulis yang tergabung dalam forum Lingkar Pena telah membuat  banyak buku di pusat dan daerah.
b. Bahasa yang digunakan halus dan lancar, kekuatan visi cerita disampaikan melalui dakwah
c. Yusakh Ananda merupakan penulis renta yang tetap berkarya sambil berjualan di kantin sekolah.
d. Seluruh royalti yang diterima penulis anggota FLP akan disumbangkan kepada Yusakh Ananda.
e. Para penulis anggota FLP sangat peduli terhadap visi, dakwah, dan pemakaian bahasa yang halus dan lancar dalam karya mereka.


2. Bacalah kutipan esai berikut dengan saksama!
Kesenjangan di Indonesia cenderung naik pada tahun-tahun ini. Kesenjangan itu Nampak seperti berikut. Pertama, adanya peningkatan kesenjangan pemilikan lahan sector pertanian. Kedua, adanya kesenjangan akses untuk memasuki aktivitas ekonomi sebgaai sumber pendapatan. Di sektor pertanian, misalnya, petani kecil kesulitan mendapatkan kredit. Ketiga, kesenjangan untuk mendapatkan akses pelayanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.
Hal yang diungkapkan dalam esai tersebut adalah ….
a. Kesenjangan merupakan salah satu pokok persoalan ekonomi kita akhir-akhir ini.
b. Petani semakin sulit hidupnya sehingga lahan pertaniaannya semakin menipis
c. Kesenjangan yang terjadi antara petani dengan pemerintah Indonesia
d. Pendidikan dan kesehatan semakin tidak dijangkauoleh petani
e. Petani kecil selalu mendapatkan kesulitan untuk memperoleh kredit dari pemerintah

4. Surat Resmi 

Surat lamaran pekerjaan dan surat undangan termasuk surat resmi. Oleh sebab itu, penulisannya menggunakan aturan resmi dan bahasa resmi.

Surat Lamaran Pekerjaan

Apabila surat lamaran pekerjaan ditulis berdasrkan iklan yang dimuat di media cetak atau elektronik, pembukaan suratnya harus mengacu pada iklan tersebut secara lengkap.

Contoh surat lamaran pekerjaan dapat dilihat pada contoh berikut ini.

Jakarta, 11 Juni 2012

Lampiran: Satu berkas
Hal    : Lamaran Kerja

Yth. Manajer SDM PT Sawo Komputer
Jalan Sawo Permai No. 76
Banten

Dengan Hormat,
 Sehubungan dengan iklan yang dimuat pada harian umum kompas, 21 Januari 2019, saya membaca iklan lowongan pekerjaan sebagai tenaga administrasi di perusahaan PT Sawo Komputer.
 Berdasarkan persyaratan yang dituliskan dalam iklan tersebut, saya dapat memenuhinya. Oleh karena itu, dengan surat ini saya,
Nama lengkap               : Narhawi, S. Kom
Tempat tanggal lahir     : Tangerang, 26 April 1987
Pendidikan Terakhir     : Sarjana Komputer tahun 2010
Alamat                         : Kompleks Green Villa Blok 11F, Tangerang

Mengajukan lamaran pekerjaan untuk mengisi lowongan tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu, bersama surat ini saya lampirkan:
1. satu lembar fotocopi ijazah pendidikan terakhir
2. satu lembar fotocopi transkrip nilai
3. satu lembar fotocopi daftar riwayat hidup
4. satu lembar fotocopi KTP
5. satu lembar fotocopi SKKB
6. dua lembar pasfoto ukuran 4x6.
 
Demikian surat lamaran pekerjaan ini saya ajukan. Atas perhatian Bapak/Ibu mengucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

 

Narhawi, S.Kom

 

 

Surat Undangan

Penulisan surat undangan resmi seperti undangan rapat, perayaan hari besar, hari penting, atau kegiatan biasanya memiliki struktur surat yang sama. Pembedanya ada pembuka surat, yaitu untuk kepentingan undangan tertentu.

Berikut contoh pembuka surat undangan.
Sehubungan dengan hari jadi ke-76  SMA Sawo Jakarta mengundang keluarga besar SMA Sawo untuk berpartisipasi dalam acara pergelaran seni yang dilaksanakan ….

 

 

 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

Cermatilah iklan berikut!

DIBUTUHKAN SEGERA

 Perusahaan industri komponen otomotif roda 2 dan 4 yang berkembang pesat membutuhkan tenaga kerja sebagai berikut:
Salesman Sepeda Motor Box
a. Pria, max. 27 tahun SMA/ sederajat memiliki SIM C
b. Menyukai tugas lapangan dan pengalaman bidang Consumer Goods/Med. Rep/Sparepart min. 1 thn
lamaran dikirim ke: Ruko Batumerah, Jalan Kadang Gede No. 56, Ambon
Paling lambat 10 hari setelah iklan ini dimuat Ambon Ekspress, 12 November 2012
Kalimat pembuka surat lamaran pekerjaan yang sesuai dengan iklan tersebut adalah ….
a. Dengan surat ini saya melamar pekerjaan di iklan yang dimuat di harian Ambon Ekspress, 12 November 2012
b. Berdasarkan penjelasan iklan di harian Ambon Ekspress 12 November 2012, saya mengajukan lamaran terhadap saudara.
c. Sesuai dengan iklan 12 November tersebut saya ingin sekali bekerjaan di perusahaan ini. Maka saya menulis lamaran pekerjaandi sebutkan di harian Ambon Ekspress.
d. Iklan di harian Ambon Ekspress, 12 November 2012 telah menarik keinginan saya untuk bekerja di perusahaan Bapak, oleh sebab itu saya mengajukan lamaran kerja .
e. Sehubung dengan iklan yang dimuat pada harian Ambon Ekspress, 12 November 2012, dengan ini saya mengajukan lamaran sebagai saleman pada perusahaan Bapak.

 

5# Tabel, Grafik, dan Diagram 

Tabel

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tabel adalah daftar yang berisi ikhtisar sejumlah data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga mudah untuk disimak.

Penentuan isi tabel dapat dilakukan dengan cara memahami fakta yang terdapat dalam tabel. Tabel terdiri dari kolom (memanjang ke kanan) dan baris (memanjang ke bawah). Kolom dan baris dihubungkan dengan data yang merupakan isi dari tabel tersebut.

Grafik

Grafik adalah lukisan pasang surut suatu keadaan yang digambarkan dengan garis atau gambar. Biasanya untuk menunjukkan turun naiknya hasil, statistik dan sebagainya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_vhYYksHtJfvYzX4AP4rOWNai0k5Z2rs2aB_N2rtuUk576E7gqTeCxiTcbc4fg5MxesFdmjdw-M-F53t3veIHhp0UvkgOkTXotlhkaKCPNiJyRW4Y4m9GaScF6RnDXywCtj6cnOmc2y90/s1600/grafik.png

 Seperti dalam memahami tabel, untuk memahami grafik dimulai dengan memahami fakta yang terdapat dalam grafik. Agar mudah memahami fakta di dalam grafik, buatlah pertanyaan-pertanyaan dengan mengacu pada rumus 5W + 1H (what, where, when, who, why, dan how) terhadap isi grafik tersebut.

 

Diagram

Diagram adalah gambaran yang memperlihatkan atau menerangkan sesuatu. Cara memahami diagram sama dengan memahami tabel dan grafik, yaitu dengan memahami fakta yang di dapat dari mengajukan pertanyaan 5W+1H. Berikut contoh diagram berbentuk garis.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOe4NrCnHQFWO2ACsTYF3L6Zb-P-EELsj30tMQHLwXszNHh71GI1_mM7ovIlZ4RdVhWyqT9l2GIuQzEM0wiGp1q_bvt7MeZ1aq93C8H6NPBuxPecFzmRzR37_7QOE-XNl5114BsMv_mB3T/s1600/diagram.png

 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia


Cermatilah tabel berikut!

Alasan ke Pameran Buku 

(dalam persen)

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDvjwoyUjzmK-hx0hwLjT9RXWVqQx5zs3i7bdGnZ6ZfdRvF7jDOt_gmzrCJ783HEwMOPdD2CTSx0R-udDCmlTgZEpr0BOvp29BU-0ZRrOMrBNAxRdG_uMUIeZKRE5SinU9DtPsvOxJhiYh/s1600/tabel.png


Pernyataan yang sesuai dengan tabel tersebut adalah …..
a. Orang yang berusia ≤ 20 tahun lebih banyak mengikuti perkembangan buku baru dibandingkan yang berusia ≥ 41 tahun
b. Para manula banyak yang mengikuti acara pendukung di sebuah pameran buku untuk menambah wawasan
c. Orang yang berusia 30 tahun datang ke pameran buku karena ingin mengikuti acara pendukung pameran
d. Produk yang dijual pada sebuah pameran buku lebih menarik minat pengunjung yang berusia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan yang berusia ≥ 30 tahun
e. Orang yang mengunjungi pameran buku umumnya ingin bereaksi yang bermanfaat sambil membaca buku
6. Hikayat dan Gurindam

Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah yang artinya ‘kisah’, ‘cerita’, atau ‘dongeng’. Hikayat yang dimaksud dengan sastra Melayu yang enceritakan kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesaktian, keanehan, dan karomah yang mereka miliki. Orang ternama yang dimaksud adalah raja, putra-putri raja, orang-orang suci, dan lain-lain.

Kemunculan hikayah merupakan kelanjutan dari cerita pelipur lara yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat. Kemudian, diperindah dengan tambahan unsur-unsur asing terutama unsur Hindu dan Islam. Hikayat ini dipergunakan sebagai media didaktis (pendidikan).

Untuk memahami sebuah hikayat, perlu diperhatikan hal yang sering ada dalam sebuah hikayat, yakni sebagai berikut.
a. Maknai kata-kata sukar dalam Bahasa Melayu kuno yang pasti akan muncul dalam sebuah hikayat, seperti titah, fi’il, konon, apatah, dan maka.
b. Masalah yang diungkaptema, seperti pengkhianatan suami istri (perselingkuhan ular jantan dan betina.
c. Pelaku utama dan pelaku sampingannya (hubungan antar pelaku), seperti Raja Hindustan, permaisuri, ular jantan dan betina.
d. Karakteristik Sastra Melayu Klasik, (1) bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Klasik, (2) pelaku binatang, (3) istanasentris, cerita sekitar raja-raja, dan (4) berisi peristiwa yang mustahil.
e. Nilai-0nilai yang diungkapkan, seperti nilai moral dalam sebuah hikayat
f. Amanat dalam cerita, misalnya niat atau pembuatan jahat tidak selalu terkabul dan berhasil.

Gurindam 

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri atas dua bait. Tiap bait terdiri atas dua baris kalimat dengan irama akhir sama yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisi semacam soal, masalah, atau perjanjian (yang berupa sebab) dan baris kedua berisi jawaban (berupa akibat) dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Isi gurindam berupa nasihat, sindiran, dan keagamaan. Berikut adalah contoh gurindam dengan isi yang berbeda-beda.
a. Gurindam berupa nasihat
apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah pendamping
(maksudnya, kita harus mendengarkan hal yang berfaedah dan menjauhi perbuatan tidak baik).

b. Gurindam berupa sindiran

 

apabila banyak mencela orang
itulah tanda dirinya kurang
(Maksudnya, seseorang yang banyak mencela orang lain biasanya justru dirinya banyak kekurangan).

c. Gurindam bernuansa keagamaan
barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang
(Maksudnya, seorang pemeluk agama wajib melaksanakan ibadah).

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

1. Bacalah hikayat berikut dengan saksama!
Maka bertambah heran Raja mendengar tutur kata Dimnah dan bertitahlah Rajamenyuruh Dimnah duduk lebih dekat kepadanya, kemudian Raja pun bersabda, “Manusia tabiatnya ada dua macam. Ada yang lekas panas seperti ular yang berbisa. Jika kebetulan ia terpijak dan tiada ia menggigit. Kedua, orang yang dingin tabiatnya. Tetapi sebagai ranting yang kering, apabila lama dipergosokkan tentu keluar juga api dari padanya. Oleh sebab itu, apabila Raja lupa menghormati seseorang yang sesungguhnya patut dihormati, janganlah ia terus menerus lupa. Lebih lekas ditebusnya kelupaan itu lebih baik baginya.
 Isi yang diungkapkan dalam penggalan hikayat tersebut adalah ….
a. sifat manusia penyabar ibarat kayu
b. nasihat raja kepada Dimnah
c. kemarahan raja kepada Dimnah
d. raja heran mendengar ucapan Dimnah
e. tabiat manusia seperti ular

2. Cermatilah gurindam tersebut!
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat kepada budi bahasa
Isi gurindam berikut adalah ….
a. Bahasa yang digunakan seseorang menunjukkan kebangsaannya
b. Tutur kata dan sopan santun seseorang menunjukkan kepribadiaan orang tersebut
c. Orang yang berbudi tentu akan berbahasa dengan baik
d. Seseorang dari golongan bangsawan tentu berbudi dan berbahasa yang baik
e. Orang yang mempunyai rasa kebangsaan yang kuat akan mempertahankan bahasanya

Pembahasan:
Dalam gurindam tersebut terdapat kata kunci, yaitu bahasa dan bangsa. Oleh karena itu, untuk menemukan hal yang dimaksud oleh gurindam tersebut tidak perlu jauh-jauh dari kata kuncinya. Tentu saja, isi dari gurindam tersebut adalah bahasa yang digunakan seseorang menunjukkan kebangsaannya.

 

 

 

7. Cerpen dan Drama

Cerpen

Unsur intrinsik sebuah cerpen atau novel meliputi (1) tema/masalah (hal yang menjadi permasalahan cerita), (2) sudut pandang (cara pengarang menempatkan dirinya dalam cerita), (3) alur (rangkaian peristiwa meliputi konflik, penyebab konflik, akibat konflik, dan pembahasan konflik), watak (karakter tokoh), dan amanat (pesan tersurat atau tersirat). Sedangkan unsur ekstrinsiknya antara lain nilai-nilai yang terkandung dalam cerita (nilai moral, sosial, budaya, agama, dan estetika).

Drama

Drama adalah sebuah karya yang dipertunjukkan dan diperankan. Unsur intrinsic dan ekstrinsik drama tidak berbeda jauh dengan cerpen. Hal yang membedakannya adalah penyajiannya. Cerpen menggunakan tulisan berbentuk pragraf, sedangkan drama dengan pertunjukkan prosa.

1. Cermatilah puisi berikut!
TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri, Laksmi mengarang
Biarpun dua diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia

 

Maka lambang bunga teratai pada larik puisi tersebut adalah …..
a. seorang pengarang
b.penjaga kebun
c. orang tak dikenal
d. tokoh pendidikan
e. penjaga hati

Pembahasan:
Sebelumnya dapat dilihat keterangan di bawah judul bahwa ini adalah puisi seorang tokoh pendidikan. Terlebih lagi lambang ‘bunga teratai’ menunjukkan keindahan yang tersembunyi, yang keindahannya sering terabaikan karena tempat hidupnya di air. Begitu pula tokoh pendidikan, jasanya terasa tetapi jauh dari sorotan orang.

2. Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
(1) Ia seorang yang tak suka keramaian. (2) Ia senang duduk dalam kamarnya menyendiri, mengarang cerita, menulis syair, atau berpikir. (3) Yang belakangan inilah paling sering diperbuatnya. (4) Maklum, orang tak setiap hari bisa mengarang. (5) Apalagi orang seperti dia yang kerap kali duduk-duduk saja, terpisah dari dunia ramai. (6) Tapi pikirnya produktif dan makin banyak kertas yang ditulisnya. (7) Istrinya suka akan tabiatnya yang demikian itu.
Kalimat pembuktian watak tokoh “ia” serang yang rajin terdapat pada kalimat nomor ….
a. (1) dan (2)
b. (1) dan (3)
c. (2) dan (3)
d. (4) dan (5)
e. (6) dan (7)

Pembahasan:
Dalam kalimat nomor 6 dan 7 terdapat diksi yang menunjukkan bahwa tokoh “ia” adalah karakter yang rajin, yaitu produktif dan istrinya suka akan tabiatnya. Produktivitas seseorang berawal dari sifat rajin dalam diri seseorang.

8. Kata Serapan, Kata Baku, dan Kata Penghubung.

Kata Serapan

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing. Contoh penggunaan kata serapan dalam sebuah paragraf dapat dilihat dalam contoh berikut ini. Sekolah itu sudah berdiri tiga tahun. Banyak siswa SMP yang ingin mendaftar di sekolah tersebut. hal itu disebabkan oleh letaknya di kompleks perumahan mewah dan sangat strategis karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum dari berbagai arah.

Kata Baku

Kata baku adalah kata dalam bahasa Indonesia baku, yaitu bahasa resmi bangsa Indonesia yang mengikuti kaidah bahasa merupakan kata baku, sedang nasihat dan resiko merupakan kata baku yang telah ditentukan. Adapun kata tidak baku adalah kata yang tidak mengikuti kaidah bahasa yang telah ditentukan . Contohnya kata nasehat dan resiko tidak baku, sedangkan nasihat dan risiko baku.

Kata Penghubung

Kata penghubung disebut juga kata sambung atau konjungsi. Kata penghubung adalah kata yang berfungsi menghubungkan antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Kata penghubung antarklausa baisanya terletak di tengah-tengah kalimat. Kata penghubung antarkalimat di awal kalimat, dan kata penghubung antarparagraf letaknya di awal paragraf.

Berikut macam-macam kata penghubung dan fungsinya.
a. Menyatakan gabungan: dan, lagi, lagi pula, serta
b. Menyatakan pertentangan: tetapi, akan tetapi, melainkan, namun, sedangkan, padahal.
c. Menyatakan waktu: apabila, ketika, bilamana, sebelum, sejak, sesudah.
d. Menyatakan tujuan: supaya, agar, tumbuh
e. Menyatakan sebab: sebab, karena, sebab itu, karena itu.
f. Menyatakan akibat: sehingga, sampai, hingga.
g. Menyatakan syarat: jika, apabila, kalau, asalkan, bilamana.
h. Menyatakan tak bersyarat: walaupun, meskipun, biarpun.
i. Menyatakan pilihan: atau

 

j. Menyatakan perbandingan: seperti, bagai, seakan-akan, ibarat, umpama, daripada.
k. Menyatakan korelatif: semakin, kian, tidak hanya, tetapi juga, sedemikian rupa, sehingga, baik, maupun.
l. Menyatakan menguatkan: bahkan, apalagi
m. Menyatakan perincian: yakni, adalah, yaitu, ialah.
n. menyatakan penjelas: bahwa 

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

1. Cermatilah kutipan berikut!
Orang mengatakan …. Gua di Indonesia banyak yang sudah rusak … kurangnya pengawasan dan perhatian ….. gua-gua itu tidak dapat dilestarikan.
Kata penghubung yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah …
a. bahwa, karena, sehinga
b. bahwa, maka, bagaimana
c. jika, maka, sebab
d. karena, maka, sehingga
e. bila, karena, atau
Pembahasan:
Kata penghubung bahwa menjadi penghubung orang yang menerangkan dengan sesuatu yang akan diterangkan. Kata penghubung karena untuk menunjukkan sebab dari sesuatu. Adapun kata penghubung sehingga dalam paragraf tersebut untuk menunjukkan akibat.

2. Cermatilah paragraf berikut!
 ….. pendidikan tidak akan pernah selesai dibicarakan. Orang awam ataupun pakar, semua memiliki hak untuk berbicara. Dunia pendidikan cenderung menjadi gelanggang pertukaran …., Bahkan terkadang pertentangan berlarut-larut, yang tidak mudah dirangkum menjadi kesepakatan umum. Setiap masyarakat mempunyai pengalaman sendiri …. Pendidikan warganya.
Kata baku yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ….
a. masalah, pikiran, ihwal
b. masalah, fikiran, ihwal
c. masalah, pikiran, ichwal
d. masalah, fikiran, ikhwal
e. masalah, pikiran, ikhwal

Pembahasan:
Kata masalah bakunya adalah masalah, pikiran bakunya pikiran bukan fikiran, dan ihwal yang awalnya serapan telah dibakukkan dengan mengikuti sistem fonologis (bunyi bahasa) bahasa Indonesia menjadi ihwal.

9. Imbuhan

Imbuhan atau afiks adalah bentuk terikat yang secara structural diletakkan pada kata dasar atau bentuk dasar untuk membentuk kata-kata baru. Imbuhan yang diletakkan di bagian muka suatu kata dasar disebut awalan (prefiks). Imbuhan yang diletakkan di belakang kata disebut akhiran (sufiks), dan imbuhan yang diselipkan di tengah kata dasar disebut sisipan (infiks).

a. Awalan me-

Awalan me- memiliki bentuk variasi me-, meny-, meng-, mem-, menge-, dan men- disesuaikan dengan bentuk dasar yang dilekatinya. Kata dasar yang diawali dengan K – P – T – S akan luluh jika mendapat imbuhan me-, Contohnya, karang – mengarang, tulis – menulis, sapu – menyapu, pukul – memukul, dan lain-lain.

Awalan me- membentuk kata kerja, baik transitif mapun intransitive. Kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek, sedangkan kata kerja yang tidak memerlukan objek adalah kata kerja intransitive.

Maka imbuhan awalan me- transitif adalah sebagai berikut.
(a) Melakukan suatu perbuatan; Contoh: Pedagang buah-buahan itu membuang sampah di mana saja.
(b) Mempergunakan atau bekerja; Contoh: Para petani sedang mencangkul sawahnya.
(c) Membuat atau menghasilkan; Ibu menyambal terasi

Maka imbuhan awalan me- intransitive adalah sebagai berikut.
(a) Mengerjakan; Contoh: Mereka sedang menari
(b) Menghasilkan; Anjing itu menggonggong
(c) Menuju ke; Contoh: Nelayan itu sudah mendarat.
(d) Berlaku atau menjadi seperti; contoh: Semen itu sudah membantu.
(e) Menjadi; Contoh: Pakaian seragamnya sudah menguning.

b. Awalan pe-

Awalan pe- memiliki variasi bentuk pe-, pen-, pem-, peny-, peng-, dan penge-, serta pe-. Kata dasar yang berawalan K – T – S – P – akan luluh jika bertemu awalan pe-. Contohnya, karang – pengarang, tulis – penulis, sapu – penyapu, dan pukul – pemukul.

Awalan pe-, berfungsi membentuk kata benda. Kata berawalan pe- memiliki pertalian dengan kata berawalan me- atau diturunkan dari kata kerja berawalan me-, misalnya pendidik dari mendiidik, pembaca dari membaca
.
 Maka awalan pe-, antara lain adalah sebagai berikut.
(a) Menyatalkan pelaku (agentif); Contoh: Pembaca berita TVRI sangat menarik.
(b) Menyatakan sesuatu atau orang yang di; Contoh Pesuruh sekolah sedang membersihkan halaman.
(c) Orang yang gemar; Contoh Dia pengumpul perangko.
(d) Memiliki sifat; Contoh: Pemuda itu pemalas, kerjanya tidur terus.
(e) Menyatakan alat; Contoh: Pemutar MP3 menghasilkan suara jernih.
(f) Orang yang bekerja di suatu tempat; Contoh: istri pelaut harus memiliki sifat sabar.

c. Awalan per-

Awalan per- berfungsi membentuk kata benda dan membentuk pokok kata. Awalan per- yang membentuk kata benda tidak produktif hanya terdapat pada kata pelajar dan pertapa. Contohnya awalan per- adalah besar – pembesar, dua – perdua, budak – perbudak.

Awalan per- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif (membuat jadi ,,,, menganggap sebagai). Contohnya pada kata perbesar ‘membuat jadi lebih besar’, perbudak ‘membuat jadi budak’, dan perdua ‘membuat jadi dua’.

d. Akhiran (surfiks) –kan

Akhiran –kan berfungsi membentuk pokok kata. Dengan tambahan prefiks me-, di-, dan ter-, pokok kata itu membentuk kata kerja. Misalnya, datangkan (pokok kata) – mendatangkan (kata kerja).

Akhiran –kan membentuk tiga macam makna berikut.
(a) Menyatakan kausatif, yaitu membuat dan menyebabkan sesuatu menjadi; Contoh: ia membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang.
(b) Menggunakan sesuatu sebagai alat atau membuat dengan; Contoh: Orang itu menusukkan pakunya ke dinding.
(c) Menyatakan benefaktif, Yaitu melakukan sesuatu untuk orang lain; Contoh : Ayah membelikan adik sepeda baru.

e. Akhiran –i

Akhirnya –i berfungsi membentuk pokok kata. Dengan tambahan prefiks me-, di-, dan ter- pokok kata itu menjadi kata kerja.

Makna sufiks –i dapat dilihat dari perincian berikut ini.
(a) Menyatakan objek lokatif (objeknya menunjukan tempat); Contoh: Pencuri itu memasuki rumahku dari belakang.
(b) Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang; Contoh: kusir sado itu memukuli kudanya agar belok kanan.
(c) Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang; Contoh: Kepala sekolah sedang menandatangani surat.
(d) Menyatakan membuat jadi; Contoh: Ayah sedang membarui rumah yang baru kami beli beberapa bulan lalu.
(e) Menyatakan ikut serta; Contoh: Ibu menemani ayah dalam pertemuan antardosen seluruh Jawa Barat.

f. Akhiran –an

Akhiran –an membentuk kata benda. sufiks –an membentuk tiga makna.
(a) Menyatakan tempat; Contohnya: Ruangan pesta itu dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang berdansa.
(b) Menyatakan hasil perbuatan; Contoh: Karangannya dimuat di majalah sastra.

 

(c) Menyatakan alat, Contoh: Rupanya timbangan itu sudah rusak karena jarumnya tidak bergerak.

g. Konfiks ke-an

ke-an merupakan gabungan dari dua macam imbuhan yang melekat bersama-sama membentuk satu arti. Imbuhan ke-an ini berfungsi membentuk kata benda.

Berikut makna yang terbentuk dari konfiks ke-an.
(a) Menyatakan suatu hal; Contoh: Kecantikan orang itu terpancar dari kepribadiannya.
(b) Menyatakan dapat di …. ‘Contoh: Tulisan itu tidak kelihatan karena hurufnya terlalu kecil.
(c) Menyatakan menderita; Contoh: kepalaku sakit karena kehujanan.
(d) Menyatakan tempat; Contoh: Kelurahan Tanjung Duren sedang direnovasi.
(e) Menyatakan perbuatan tidak disengaja; Contoh: siswa yang kesiangan diberi tugas di perpustakaan.
(f) Menyatakan terlalu; Contoh: Baju yang dibelikan ayah kekecilan.
(g) Menyatakan menyerupai; Contoh: Dia masih kekanak-kanakan padahal sudah dewasa.

h. Konfiks pe-an

Konfiks pe-an berfungsi sebagai pembentuk kata benda. Kata yang berafiks pe-an sebagian besar merupakan hasil nominalisasi dari kata berafiks me-, baik disertai afiks –i, atau –kan, maupun tidak. Karena itu, kata berafiks pen-an sejalan dengan kata-kata itu. Contohnya, pembacaan sejalan dengan membaca. Kesejalanan itu dapat diketahui dari kalimat seperti berikut. Mereka sedang membaca Alquran dilakukan bersama-sama.

Makna yang dibentuk konfiks pe-an ada lima, yaitu berikut ini.
(a) Menyatakan hal; Contoh: Pengedaran ganja dilakukan oleh orang-orang tertentu.
(b) Menyatakan cara; Contoh: Penyajian materi pelajaran Bahasa Indonesia itu tidak membosankan.
(c) Menyatakan hasil; Contoh: Penilaian tim juri tidak dapat diganggu gugat.
(d) Menyatakan alat; Contoh: Pendengaran orang itu sudah tidak jelas.
(e) Menyatakan tempat; Contoh: Pengungsian orang Ambon sudah disediakan pemerintah.

i. Konfiks per-an

Konfiks  per-an berfungsi sebagai pembentuk kata benda. Kata berkonfiks per-an merupakan hasil nominalisasi dari kata kerja yang sejalan dengan kata kerja yang berawalan ber- dan kata kerja yang dibentuk oleh memper- (-kan, -i). Contohnya, perkenalan sejalan dengan berkenalan. Kesejalanan itu dapat dilihat dalam kalimat berikut.
- Aku berkenalan dengan dia
- Perkenalanku dengan dia tidak kuduga sebelumnya

Konfiks per-an membentuk beberapa makna berikut ini.
(a) Menyatakan hal; contoh: izin pergedungan di DKI Jakarta sangat ketat.
(b) Menyatakan hasil; contoh: kita harus menjungjung persatuan bangsa.
(c) Menyatakan tempat, daerah; contoh: Vila itu sebagai peristirahatan keluarga presiden
(d) Menyatakan berbagai-bagai; contoh: surat lamaran pekerjaan harus disertai persyaratan yang diminta.

j. Afiks Kombinasi (Gabungan Afiks)

Gabungan afiks adalah penggunaan beberapa imbuhan yang memiliki makna dan fungsi, tetapi muncul bersamaan pada sebuah kata dasar.
(a) Gabungan me-kan, di-kan, memper-kan, dan diper-kan
 Gabungan afiks ini berfungsi membentuk kata kerja. Prefiks me- menyatakan keaktifan, prefiks di- menyatakan kepasifan, sedangkan sufiks –kan pada umumnya menyatakan kausatif. Makna dari me-kan, di-kan, memper-kan, dan diper-kan adalah sebagai berikut.
(a) Menyatakan kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya proses; Contoh: Ayah sedang meninggikan tiang jemuran.
(b) Menjadikan sebagai atau menganggap sebagai; Contoh: Orang itu memperhambakan benda-benda  antiknya.
(c) Menyatakan intensitas; Contoh: Mereka memperebutkan Piala Gubernur DKI Jakarta

(b) Menyatakan kausatif
Gabungan afiks ini berfungsi membentuk kata kerja. Prefiks me- menyatakan keaktifan, dan di-i, memper-i, dan diper-i, adalah untuk menyatakan kausatif dan intensitas (termasuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang).
Contoh:
- Anak itu sedang memperbaiki sepedanya
- Mereka sedang mempelajari bahan UAS

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

Cermatilah paragraf berikut!
Indonesia memiliki banyak sekali bahan alami yang …. Bagi kesehatan. Untuk si kecil, secara turun-temurun, para orang tua menggunakan minyak telon yang dapat memberikan …. Dan kenyamanan … panas tubuh bayi belum sesempurna orang dewasa. Di lingkungan dingin, bayi belum bisa membakar cadangan lemak tubuh dengan segera untuk menghasilkan panas sehingga bayi pun menggigil kedinginan.

Kata berimbuhan yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ….
a.memanfaatkan, penghargaan, aturan
b. memanfaatkan, kehangatan, peraturan
c. bermanfaat, penghangatan, aturan
d. bermanfaat, kehangatan, pengaturan
e. pemanfaatan, menghangatkan, pengaturan

Pembahasan:
Kata berimbuhan pertama yang dibutuhkan adalah kata berimbuhan membentuk ‘sesuatu yang mengandung’. Oleh karena itu, kata dengan awalan ber- paling tepat mengisinya. Kata yang kedua membutuhkan pembentuk nominal sebagai pelengkap dari verba memberikan. Jadi, konfiks yang tepat adalah ke-an sebagai pembentuk nomina kehangatan. Begitu pula dengan konfiks pe-an dalam pengaturan cocok mengisi bagian yang kosong selanjutnya.

10. FRASA

Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Contoh frasa dapat dilihat sebgaai berikut.
Hari ini / siswa SMA / sedang ujian / bahasa Indonesia
    K               S                    P                      Pel
 
Kalimat tersebut terdiri atas empat frasa yang masing-masing memiliki fungsi, yakni keterangan, subjek, predikat, dan pelengkap. Frasa-frasa tersebut memiliki inti yaitu hari, siswa, ujian, dan bahasa. Selain itu, frasa-frasa tersebut memiliki atribut yaitu ini, SMA, sedang, dan Indonesia.
 
Berdasarkan unsur inti seperti yang tadi telah disebutkan, frasa terbagi lagi menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

1. Frasa Endosentris

Frasa endosentris ini terbagi lagi menjadi tiga macam yang diperinci sebagai berikut.
a. Frasa endosentris koordinatif, yaitu frasa yang unsur-unsurnya setara. Contoh: Ayah dan ibu/ sedang pergi
b. Frasa endosentris atributif, yaitu frasa yang memiliki unsur pusat dan unsur atribut. Contoh: Sepatu saya hilang
c. Frasa endosentris apositif, yaitu frasa yang memiliki unsur pusat dan aposisi. Contoh: Aminah, anak pak lurah, cantik sekali.

2. Frasa eksosentris

Frasa eksoentris, yaitu frasa yang tidak memiliki unsur pusat. Contoh: Anak-anak itu/ sedang bermain/ di halaman.

Selain itu, frasa dapat diperluas dengan kata yang. Frasa seperti ini akan membentuk klausa. Perhatikan contoh-contoh berikut ini!
a. Buku yang tebal itu / kepunyaanku
b. Orang yang kemarin datang / pamanku.
c. Baju yang baru dibeli / kekecilan
d. Laki-laki yang memakai kacamata itu / temanku

Penggunaan frasa dalam kalimat sering menimbulkan keambiguaan atau makna ganda. Misalnya saja kalimat Lukisan Ayah/ dipajang / di ruang tamu. Frasa lukisan ayah memiliki makna lukisan milik ayah, lukisan mengenai diri ayah, atau lukisan buatan ayah.

Berdasarkan persamaan distribusi kategori kata atau jenis kata, frasa memiliki macam-macam nya lagi yaitu sebgaai berikut.
a. Frasa nominal (benda), misalnya baju baru, buku tulis, lemari es, dan acara terakhir.
b. Frasa verbal (kerja), misalnya duduk lagi, sudah pergi, dan baru tidur.

 

c. Frasa adjectival (sifat), misalnya cantik sekali, agak panas, dan putih bersih.
d. Frasa bilangan, misalnya tiga ekor ayam, dua buah rumah, dan tiga tetes obat.
e. Frasa keterangan, misalnya kemarin pagi, tadi malam, dan sekarang ini.
f. Frasa depan, misalnya di kamar, ke sekolah, dan bali, pada tempatnya.
 
Penggunaan frasa dalam sebuah paragraf dapat dilihat pada contoh di bawah ini.
Sementara itu, petugas medis/ harus memberikan pertolongan/ untuk membawa/ pasien rujukan/ ke rumah sakit/. “Saya/ khawatir / pasien darurat / jiwanya / tidak tertolong / karena kendaraan / berjalan lambat / akibat / kerusakan jalan itu,” katanya.
 
Frasa yang tercetak miring dalam paragraf tersebut terdiri atas beberapa frasa seperti berikut.
Petugas medis  = frasa nominal (benda)
Harus memberikan = frasa verbal (kerja)
Untuk membawa = frasa verbal (kerja)
Pasien rujukan  = frasa nominal (benda)
Ke rumah sakit = frasa depan
Pasien darurat  = frasa nominal (benda)
Tidak tertolong = frasa verbal (kerja)
Karena kendaraan = frasa nominal (benda)
Berjalan lambat = frasa verbal (kerja)
Kerusakan jalan = frasa nominal (benda)

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia


Cermatilah paragraf berikut ini!
Hamparan sawah membentang …. Padi di sawah merunduk berayun-ayun meliuk-liuk ditiup angin. Dangau-dangau berpencaran. Tampak bocah-bocah bertepuk sorak ….. mengusir kawanan burung pipit yang hendak berpesta pora memakan padi. Gemercik air yang jernih di saluran air terdengar ….. di telinga.
Frasa adjectival yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ….
a. sangat indah, berteriak-teriak, merdu sekali
b. sangat luas, dengan nyaring, merdu sekali
c. sangat hijau, gembira sekali, sangat merdu
d. kekuning-kuningan, sangat nyaring, sayup-sayup
e. kuning cerah, sangat riang, merdu sekali

Pembahasan:
Frasa kekuning-kuningan tepat mengisi setelah verba membentang sebagai pelengkap. Lalu sangat nyaring tepat untuk mengisi keterangan dari sorak bocah-bocah. Merdu sekali sebgaai keterangan suara air tepat mengisi bagian ketiga.


11. PUISI 

Puisi adalah salah satu ragam sastra yang disampaikan dengan menolong, memiliki makna yang tersirat, dan penggunaan kata-kata yang cenderung konotatif. Kata-kata yang cenderung konotatif inilah yang emmbuat puisi selalu menggunakan berbagai gaya bahasa untuk menyampaikan isi hati yang diungkapkan seseorang.

1. Majas

Majas adalah bahasa kias yang dipergunakkan untuk memperoleh efek tertentu dari suatu benda atau hal dengan cara membandingkannya dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Dengan kata lain, penggunaan majas tertentu dapat mengubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (Tarigan, 1995: 112). Soemardjo dan Saini KM (1991: 127) juga mengatakan bahwa majas adalah cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus keduanya bertambah.

Berikut beberapa macam majas yang biasa digunakan.
a. Majas perbandingan 
Adalah majas perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dengan sengaja kita anggap sama. Contohnya simile,metafora, personifikasi, dan alegori.

b. Majas hiperbola

Adalah majas yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan, baik jumlah, ukuran, maupun sifat-sifatnya.

c. Majas litotes

Sering dikatakan sebagai kebalikan dari hiperbola untuk pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negative atau bentuk yang bertentangan.

d. Majas ironi

Adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme dengan munculnya kata-kata kasar.

e. Majas aliterasi

Adalah majas yang menggunakan kata-kata dengan bunyi awal yang sama (purwakanti).
 

 

Apabila seseorang ingin menulis puisi, dia harus memikirkan diksi yang digunakan dan majas yang tepat sesuai dengan masalah yang akan diungkapkan dalam puisinya. Dengan kata lain, diksi dan majas yang digunakan harus dipikirkan kepaduannya.

Contoh puisi karya Ans berjudul “Api Semangat”.
Apakah aku harus rapuh
Rapuh berarti aku jatuh
Jatuh dalam keterpurukan
Ah, aku harus lawan
Api yang hampir padam
Tak akan kubiarkan mati

Aku akan terus melaju
Sekalipun dalam terpaan gelombang dan badai
Hatiku takkan mudah rapuh lagi
Semangat hidupku harus kupacu
Ah tidak boleh kalah
Oh, tuhan teguhkanlah hatiku
Semoga aku tegar,
Kusampaikan di pantai tujuan
Amin!

Kata rapuh dalam bait pertama mengiaskan ‘tidak kuat menahan atau tidak tabah’; kata jatuh dan padam bermakna ‘gagal’. Kata kupacu pada bait kedua mengiaskan ‘giat’ atau ‘rajin’, kalah bermakna ‘gagal’, teguhkan hatiku bermakna ‘tabah’. Kata api melambangkan semangat dan pantai melambangkan keberhasilan.

Majas sekalipun dalam terpaan gelombang dan badai berupa metafora karena membandingkan antara gelombang dan badai sebagai hal berat yang harus dihadapinya. Hal ini disebabkan gelombang dan badai kerap diidentikan dengan kekuatan dan kesulitan yang besar.
 
Berdasarkan pada pemahaman diksi dan majas yang digunakannya, puisi di atas mengungkapkan keinginan seseorang untuk melawan rasa keputusasaannya dalam meraih cita-citanya dan meminta kekuatan hatinya kepada Tuhan.

2. Peribahasa

Peribahasa adalah kalimat yang tetap susunannya dan mengiaskan maksud tertentu. Ungkapan tersebut dapat berupa nasihat, prinsip hidup, dan aturan tingkah laku.

Latihan Soal Tipe UN/UNBK B. Indonesia

Cermatilah puisi berikut!

NYANYIAN SEORANG PETANI

Berilah kiranya yang terbaik bagiku
Tanah berlumpur dan kerbau pilihan
Biji padi yang manis

Berilah kiranya yang terbaik
Air mengalir
. . . . . .

Bila masanya buah kupetik
Ranumnya Kupetik
Rakhmat-Nya kuraih
Larik bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah …..
a. hujan menyerbu tanah air
b. air mengalir sampai jauh
c. tanamannya disiram agar tidak layu
d. hujan turun tiba-tiba
e. gemercik air terdengar jelas

Pembahasan:
Ingat, puisi memiliki rima. Maka akhirnya pun juga harus memiliki bunyi yang sama dengan kata “mengalir”.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

Abdulah, Imran T.2000. Monolog dan Dialog dalam Drama dalam Nur Sahi

(Ed.) Interkulturalisme dalam Teater. Yogyakarta: Terawang Press.

Nurgiyantoro, Burhan.2001 (ed. Ke-3). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Wiyanto, Asul.2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Gramedia.

Sumarjo, Yakob, Memahami Kesusastraan, Bandung, Alumni,1984.

Teeuw, A. 1984, Sastra dan ilmu sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rahmanto, B. 1998. Metode Pengajaran Sastra. Jogyakarta: Kanisius.

Ahmadi, Mukhsin.1990. Strategi Belajar-Mengajar;Keterampilan Berbahasa Dan Apresiasi Sastra. Malang:YA3.

Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sumiyadi, dkk.,1997. Sanggar Sastra. Jakarta: Depdikbud. 

Soetarno.1981. Peristiwa Sastra Indonesia. Surakarta: Widya Duta.

 

Komentar

Postingan Populer