TETESAN DARAH PERJUANGAN II SADANA LITERASI

 

 



PAHLAWANKU

Penaku merangkak
Diatas kertas putih
Menceritakan kisah pilu
Sepuluh November

Kisah bersejarah penuh perjuangan
Tentangmu wahai pahlawanku
Engkau rela mengorbankan darahmu
Untuk para penjajah yang sungguh egois

Wahai pahlwanku
Engkau sungguh hebat
Tekadmu sangat kuat
Engkau tak pernah menghiraukan rasa sakit

Engkau melangkah pelan
Menghindari tembakan
Kakimu tak beralas hingga tertusuk dan terantuk kerikil
Tapi..
Tak sekalipun kau peduli

Engkau terus melangkah
Meski tubuh diselimuti keringat
Sambil  membawa senjata
Yahh..
Bambu runcing tombakmu

Pahlawanku...
Walau raga tak berdaya
Walau badan tertusuk kayu
Engkau tetap berlari
Demi tercapainya kemerdekaan tanah air tercinta

Puisi : Dela Helista
Kelas: X BHS A

SANG PEJUANG API

Di teriknya panas
Kau merutuk ditengah hutan
Tempat dimana kau sembunyikan diri
Dari sosok seribu mata bersenjata

Engkau berjuang dengan semangat berkobar
Mempertahankan negrimu
Yang penuh rempah-rempah emas
Tak peduli siang dan malamnya waktu

Kau sang pejuang
Darah dan keringatmu masih terngiang
Tak peduli senjata api menghadang
Penjajah datang bagai laut yang bergelombang

Negrimu yang dulu seperti lautan api
Kau padamkan dengan sekucur keringat
Kau  maju dengan gagah dan berani
Menolong negrimu dalam sekarat

Terima kasih pahlawan bangsa
Aku memang tak bisa berperang
Tapi jasa bisa kukenang
Ke berjanji akan berjuang
Mempertahankan kemerdekaan yang telah digenggam

Puisi : Ermilinda imung
Kelas:XII IPS C

HARIMU SEPULUH NOVEMBER

Hari ini aku kembali diingatkan oleh harimu sepuluh November
Kala itu Indonesia ditampar derita
Para pencipta luka, menghadirkan murka

Kala itu alam tampak ganas
Indonesia jadi ladang perbudakan
Saling merampas dan dirampas
Membunuh dan dibunuh

Hujan pun tak hanya hujan air
Hujan api juga hujan peluru pernah terjadi
Hingga menembus segala penjuru.
Apalagi hujan airmata
Nampak membanjiri..

Diam ditikam
Bergerak dihantam
Apalagi dilawan sudah pasti tak akan diam sekali pun
Darah berserakan tampak seperti air mengalir.
Menyerah bukanlah solusi

Wahai para leluhur bangsaku
Jika karena bukan usahamu mempertaruhkan nyawa
Demi bangsa ini
Kami tak tau lagi apa yang terjadi hari ini

Puisi : Efrasia K. Sanjaya
Kelas:XI BHS C

KISAH SEPULUH NOVEMBER

Hari ini kami penghuni negri
Mengenang, merenungi kisahmu
Engkau telah menggoreskan aliran darahmu untuk indonesia

Sungguh sepuluh November membangkitkan rasa benci dan dendam untuk mereka yang telah menggores luka pada pahlawan ku kala itu.
Kala itu penghianat sangat kejam pada negriku

Haii engkau pahlawanku...
Perjuanganmu juga keberanian mu
Kan selalu kukenang dalam mempertahankan negriku

Puisi : Margareta Jelina Jaya
Kelas : X Bahasa B



MANGGARAI SI PENCINTA

Hei kamu motang rua
Namamu menawan bagai piagam
Duka luka kamulah itu
Kamu tersembunyi diliang hati yang sunyi

Hari ini telah beratnya perjuangan sebetat memisahkan bayangan
Bukan si manggarai motang rua
Saat ini sinar kecerdasan terpapar karnamu
Lihatlah seni perkasa lestari manggarai

Aku tetap menunggu lugunya hujan
Tentang bagaimana aku tanpamu
Tentang aku si penikmat
Dan tentang ribuan rindu

Siapakah wujudmu?
Mungkinkah diriku?
Ataukah mereka?
Ku berharap, ah... Bukan harapan,
Sudah pasti akulah reingkarnasimu

Aku berjanji akan kudasikan tradisimu
Lihatlah pagi mencetak terjanji
Gundah, lambat liuk, lika liku
Itu kita tapi pasti

Untukmu pecinta zaman sombong
Usik hati perbarisan depan
Kais niat jejak pahlawan
Dengar!!! Usia ingin melukis bukit pagi
Bangun dan lihat!
Inilah fajar si pecinta elok tubuh manggarai

Puisi : Tresia A. Tenawahang
Kelas:XII IPA

SOSOK PAHLAWAN

Terancam, tertindas juga tersakiti
Takut, menakuti dan ditakuti.
Semua sibuk menindas dan tersakiti
Tangisan sudah seperti air minum

Haus, lapar, dingin, panas
Sudah terbiasa
Meriuh suara senapan
Gemeruh suara bom
Semua seperti perayaan kembang api malam Natal

Wahai para pahlawan yang hilang
Dimana lagi kutemukan keberanian mu
Dimana lagi kudengar pekik teriak semangatmu
Dimana lagi ketemukan sosok sepertimu

Pagi berganti malam
Bulan berganti tahun
Beribu hari kulewati
Namun tak juga kutemukan sosok pahlawan sejati seperti dirimu


Puisi : Febryani Jemian
Kelas:XI IPA B

CINTAMU KSATRIA PERTIWI 




Jasamu tak lekang waktu
Perjuangan mu tak dapat terbalaskan
Jejak cintamu tersusun indah dalam deretan syair   pujangga
Harum semerbak mewangi

Ksatriaku...
Peluh bercucur dari tubuhmu
Hingga hujan peluru menembus kulitmu
Tak segelintir pun rasa takut
Demi bumi ibu pertiwi

Kala itu 10 November
Pahlawanku tanpa takut, tanpa gentar
Mengoyak musuh hingga ampun
Segenap jiwa raga bertekad membara
Hingga penjajah keji tak beretika mundur

Sungguh.. Pengorbanan luar biasa
Berteriak maju melawan penjajah
Tanpa mengharapkan imbalan
Asalkan bumi pertiwi aman sentosa

Pahlawan negri
Tak lelah dimedan perang
Walau rindu membelenggu jiwa
Tapi itu kau sembunyikan
Demi mempertahankan kibaran sang saka merah putih

Ksatria pertiwi...
Tanpamu tanah air berserakan tak terbentuk
Tanpamu Indonesia hancur berkeping-keping
Tanpamu aku juga mereka tak akan menikmati udara segar

Hari ini kembali ku mengenang cintamu
Tak lupa sepenggal doa kulangitkan
Engkau kan selalu kukenang
dalam sejarah perjuangan

Puisi : Astrivo  Nofesa Sulti
Kelas:XII IPS B

KSATRIA PERTAMA

Diatas indahnya dunia
Kaulah yang taburkan banyak cinta
Kaulah yang menjadi pelita dikala gelap gulita
Memberikan goresan bertema kala Indonesia telah merdeka

Pengorbananmu disaksikan oleh sang purnama
Kebesaran Jasamu terbentang luas diangkasa
Keagungan namamu terukir indah dalam dada
Jiwa juangmu adalah cerita negara tercinta

Seribu inspirasi dibalik hentakan kaki
Tersirat gumpalan kata motivasi dibalik langit sunyi
Teriak-teriakan sang pemimpi
Nada rima waktunya kehilangan rasa frustasi

Cerita hari hari ini
Mengenang kisah pahlawan sejati
Selipan salam yang tak sampai.
Kisah yang berulang kembali walau hanya dalam ilusi

Puisi : Elfigita Suryati
Kelas:XII BHS B



JASAMU TAK TERHITUNG

Saat itu kau memberi seribu sejarah
Tentang negri yang  pernah dijajah
Dimana darah mengalir perlahan-lahan
Terkapar oleh senjata yang begitu tajam
Demi memperjuangkan negri ini

Detik demi detik suaramu menggema
Membangunkan dunia pertiwi yang terkumpur dalam kolianisme
Meringis kesakitan karena banyak peluru yang menyerang

Wahai pahlwanku
Jasa-jasa tak dapat dihitung
Perjuanganmu tak bisa kubalas
Hanya spontan kata yang diucapkan Terima kasih
Atas perjuanganmu demi si tunas bangsa

Puisi : Felisia Rati
Kelas:XII IPS B

UNTUKMU PAHLAWANKU

Secuil surat kutuliskan untukmu
Tentang kisah yang sudah dilewatkan.
Tentang penderitaan yang begitu pahit
Tentang masa sulit mu

Kini masa itu telah menjadi kisah inspirasi bagiku
Untuk terus Berjuang melawan kemalasan
Meski aku tak sekuat dirimu
Namun aku akan terus berjuang dan berjuang

Engkau tidak egois
Engkau bagaikan mentari penuh semangat.
Namamu akan abadi  bagi kami anak negri

Meski keringat meluncur deras dari pipimu.
Namun kau tak pernah peduli
Walau darah terus menetes tapi tak sekali pun dihiraukan
Terima kasih pahlwanku

Puisi : Helena N. Jaya
Kelas:X BHS A

PAHLAWAN

Jejak-jejakmu masih membekas dibumi pertiwi
Tetesan darah sucimu masih terlukis dalam hati
Suara tembakan senjatamu masih hadir dalam ilusi bangsa

Surabaya istana pertempuran
Engkau rela nyawamu dipertaruhkan
Semangat membara di dada punahkan penghalang negri
Lelah, letih, sakit tak kau hiraukan
Engkau rela bermandi darah.
Jatuh... Bangkit kembali demi Indonesia

Kaulah mentari pertiwi
Kau kokohkan merah putih kibar dilangit biru
Meski kini kebahagiaan bukan milikmu
Engkau sudah lapuk
Namun engkau kan berhias emas
Butiran darahmu adalah inspirasi ku
Jiwa sejatimu adalah impianku

Puisi : Angela L. Seliawan
Kelas: X IPA A

PAHLAWAN BERJIWA MULIA

Kelupas dada tersobek
Hamparan keningmu ditonjok kapak
Pun senapan granat
Berlumuran darah berceceran
Di tanah ladang pertempuran

Siapa tak sangka kau adalah pahlawan
Berjiwa mulia pembrani
Tegap dan tangguh
Maju tuk jadi pemenang

Rela mati ditikam tombak
Tak peduli seberapa kuat angin
Mengguncang tapak negrimu

Tak pernah rela rapuh
Hanya pergolakan semata
Tetap maju pantang mundur
Membangun negri yang elok permai

Pahlawanku...
Kini tubuh tegapmu telah hirap
Tapi jasa akan pengorbananmu
Selalu memgukir tentang namamu
Pahlawanku. ..
Kami pemuda Indonesia berbakti kepadamu
Berjanji tuk berkarir dinegri ini
Menyulam atma menjadi yang terdepan

Puisi : Angela Merici
Kelas:XII IPS A

SEJARAH BERMAKNA


Sejarah bermakna di surabaya
Kini dikenang lagi
Kisah 77 tahun lalu
Ada pertempuran bertitik darah disurabaya

Merelakan tubuh,bertaruhkan nyawa
Ada suara peperangan
Ada nyawa yang ditaruhkan kala itu


Demi berkibarnya sang merah putih
Demi bebasnya Nusantara dari penindasan
Demi nusantara bebas dari tipu muslihat para penjajah

Pahlawanku
Dia tidak membiarkan nusantara di injak injak
Dialah sosok si patriot negeri

Wahai pahlawanku
Terimakasih atas sejarah bermakna yang pernah kau titipkan
Di tanah surabaya


Puisi : Diana  Y. Dino
Kelas :X IPA B


TETESAN DARAH PERJUANGAN 

 


Terlatih dari setiap reforma
Berlangsung hingga saat ini
Hidup dalam banyak sejarah
Puluhan tahun lalu, disini dinegri ini banyak jiwa yang berkorban
Penindasan, pembantaian, kelaparan yang mereka rasakan

Tiada getar jiwa ingin menerjang
Meski rasa perih dikaki yang telanjang
Sebilah bambu ditangan
Tiada getar tuk maju kedepan
Meski mereka harus melawan senapan
Tiada pernah surut harapan
Meski terkadang dirimu tertawan

Langkah tegap penuh semangat
Meski luka disekujur tubuhmu
Tetesan darah kau anggap bagai keringat
Tiada kau peduli walau dirimu diujung sekara

Kau hanya ingin berteriak merdeka
Yang menggema di Nusantara
Kau hanya ingin merah putih berkibar
Tiada penjajah
Tiada penindasan

Darahmu yang merah adalah selimut hangat bagi negri ini
Jiwamu yang ksatria sebagai benteng kasihmu untuk bangsa ini

Puisi : Marselina D. Anum
Kelas : X BHS B



Puing, 10 November 2022

(Deo Hironimus // Red)

Kumpulan puisi peserta didik ekstrakurikuler literasi. Komunitas Literasi "SADANA" SMA Negeri 2 Macang Pacar, Kab. Manggarai Barat, Prov. NTT.

Komentar

Postingan Populer